Awalnya

Aku dan lelaki itu belum saling mengenal lebih jauh. Hanya sebatas teman kuliah, ya aku mengenalnya dari temanku yang ternyata adalah temannya juga, dan akhirnya jadilah kami semua berteman. Otakku langsung memutar kembali kejadian saat hari terakhir ospek kampus. Aku megingatnya. Saat itu dia tengah diminta oleh seorang kakak senior untuk berfoto berdua. Melihat wajahnya tersipu-sipu malu entah harus bertingkah seperti apa, dia hanya tertawa kemudian tersenyum. Sebuah hiburan yang tak sengaja aku temukan disaat orang-orang sibuk bersorak-sorak gembira melihat Duta membawakan lagu demi lagu Sheila On Seven.



Memasuki perkuliahan untuk pertama kalinya membuatku tak bisa tidur dengan tenang. Berpikir tentang hari esok, bagaimana aku mendapat teman baru, berkomunikasi dengan mereka semua. Dimana yang rata-rata mayoritasnya menggunakan bahasa jawa, sedangkan aku dari bogor menggunakan bahasa sunda itu pun hanya menguasai bahasa yang kasar tidak lembut seperti di kota bandung.
                                                                            
                                                                                ***
Ketika pembagian kelas telah diumumkan. laki-laki itu. Kami satu kelas dan satu dosen pembimbing. Dia tidak mencolok seperti kebanyakan mahasiswa laki-laki lainnya. Tapi aku ingat satu kebiasaannya yang agak sedikit mengusik konsentrasiku. Dia sangat suka izin untuk ke kamar kecil saat orang-orang sedang serius memperhatikan dosen menjelaskan. Dan mau tak mau membuatku menoleh, mencari tahu siapa dia yang dengan entengnya izin lalu sambil berlari kecil keluar kelas menuju kamar kecil. Entah apa yang dia lakukan disana, aku tak begitu yakin bahwa dia benar-benar ingin buang air kecil. Dan saat itu aku hanya mengenal dia sebagai anak laki-laki yang suka sekali izin ke kamar kecil. Ya sesederhana itu.


Komentar

Postingan Populer